Menjawab Blog Haulasyiah

Membungkam Aliran Wahabi

Bantahan Atas: “TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH AYAT YANG KE 7, menurut syi’ah”

Ditulis oleh menjawabhaulasyiah di/pada September 7, 2007

Bantahan atas:

TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH AYAT YANG KE 7, menurut syi’ah

Ditulis oleh haulasyiah di/pada Juli 12th, 2007

________

Nisbah Tafsir Kepada Syi’ah

Pertama yang perlu dipertanyakan adalah penisbatan tafsir atas ayat 7 surah al Bayyinah, seperti dalam riwayat yang dikutip kepada tafsir Syi’ah. Apa maksud penisbatan itu? Tidak ada alasan yang disebutkan untuk itu.

Ada beberapa asumsi yang mungkin dapat diangkat menjadi dasar penisbatan itu.

Pertama, Tafsir itu hanya ada di kitab-kitab tafsir ulama Syi’ah.

Kedua, Tafsir itu diriwayatkan oleh periwayat Syi’ah.

Ketiga, Tafsir itu memuat keutamaan Ahlulbait as. yang sangat diagungkan oleh kalangan Syi’ah (tidak oleh Bakriyah/Salafy/Neo Nawashib).

Itulah asumsi yang dapat dimunculkan sebagai dasar. Mana di antara asumsi itu yang menjadi dasar alasan blog “haulasyiah”. Apakah kerena tafsir itu hanya terdapat di kitab-kitab tafsir Syi’ah? Atau karena ia diriwayatkan oleh periwayat Syi’ah? Atau karena tafsir itu memuat keutamaan Ahlulbait as.?

Sepertinya ketiga alasan itu telah mendorong penisbatan tafsir itu kepada tafsir Syi’ah sehingga ditulis dalam kategori Tafsir Syi’ah.

Tetapi penisbatan itu adalah penisbatan yang zalim dan sekaligus membongkar kedalaman jiwa dan mentalitas kaum Neo Nawashib/Salafy terhadap berbagai keutamaan Imam Ali as. dan Ahlulbait Nabi saw..

Tafsir Ayat Tersebut Dalam Kitab-kitab Ahlusunnah Wal Jama’ah

Para ulama dan mufasir Ahlusunnah telah meriwayatkan, seperti yang juga dikutip sebagiannya oleh blog “haulasyiah” dalam artikelnya. Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa riwayat darinya agar jelas bagi pembaca bahwa penisbatan tafsir itu kepada Syi’ah adalah nisbat zalim yang bertujuan untuk memprovokasi pembaca dan membentuk opini negatif terhadapnya, bahwa tafsir itu adalah tafsir Syi’ah, tafsir ahli bid’ah bahkan tafsir sekte sesat yang sudak kafir!

Dan cara-cara tidak jujur seperti itu sudah menjadi ciri Neo Nawashib/Salafy/Wahhabi dalam dakwah mereka. Dan dengan demikian makin memperjelas motivasi penisbatan itu… bahwa karena tafsir itu memuat keutamaan Imam Ali as., maka itu adalah tafsir Syi’ah, dan setiap hadis keutamaan Ahlulbait as. Adalah patut dicurigai bahkan dituduh sebagai riwayat Syi’ah/Rafidhah.

Di bawah ini riwayat-riwayat para ulama, bukan sebuah riwayat saja:

1. Al-Thabari, salah seorang tokoh terkemuka Ahlussunah, menyebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Muhammad bin Ali, ketika Nabi saw. membaca ayat tersebut beliau bersabda menjelaskan:

أَنْتَ يَا علِيُّ وَ شِِيْعَتُكَ

Mereka adalah kamu, hai Ali, dan Syi ‘ahmu (pen gikutpengikutmu).[1]

2. Ibnu Hajar Al-Haitami menggolongkan ayat ini sebagai salah satu ayat yang turun berkenaan dengan keutamaan Ahlulbait as., ia berkata, “(Ayat ke sebelas); Finnan Allah SWT:

إِنَّ الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ أُولَئِكَ هُمْ خيرُ البَرِيَّةِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (QS 98:7)[2]

3. Al-Hafidz Jamaluddin Al-Zarandi meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.,ia berkata,’Sesungguhnya ketika ayat ini turun, Nabi saw. bersabda kepada Ali:

هُو أَنْتَ وَ شِيْعَتُكَ. تَاْتِيْ أنتَ وَ شيعتُكَ يومَ القيامة راضين مرضِيِّيْنَ، و يأتي عَدُوُّكَ غِضابًا مُقْمَحِيْنَ. قال: و مَنْ عدُوِّيْ؟ قال: مَنْ تَبَرَّأَ منْكَ و لَعَنَكَ.

Dia adalah kamu dan Syi ‘ahmu. Kamu dan Syi’ahmu datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diriidhai, sedang musuhmu dalam keadaan murka dan tertelangah. Ia berkata,”Siapa musuhku?” Beliau menjawab,”Orang yang berlepas tangan darimu dan melaknatmu[3].

4. Ibnu Asakir meriwayatkan dan Jabir bin Abdillah ra., ia berkata, “Kita bersama Nabi saw. lalu datanglah Ali as., maka beliau saw. bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، إِنَّ هَذَا وَ شِيْعَتَهُ لَهُمُ الفائِزُونَ يوم القيامةِ Demi yang jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya orang ini dan Syi’ahnya benar-benar orang-orang yang beruntung di hari kiamat.

Lalu turunlah ayat tersebut.

Maka para sahabat Nabi saw. apabila Ali datang, mereka berkata, “Telah datang Khairul Bariyyah“.[4]

Dalam riwayat lain, Ibnu Asakir dan Ibnu Adi mengutip hadis dari Abu Sa’id yang ia marfu’kan (sandarkan) kepada Nabi saw.:

عَلِيٌّ خيرُ البَرِيَّةِ

Ali adalah Khairul Bariyyah, Ali sebaik-baik makhluk.

5. Ibnu Murdawih meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad bersambung kepada Imam Ali as., beliau berkata,”Rasulullah saw. telah berkata kepadaku, “Tidakkah kamu mendengar firman Allah yang berbunyi:

إِنَّ الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ أُولَئِكَ هُمْ خيرُ البَرِيَّةِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (QS 98:7)

هُمْ أنت وَ شيعتُكَ، و مَوْعِدِيْ و مَوْعِدُكم الحوضُ إذا جاءَتِ الأُمَمُ للِحسابِ يومَ القيامة تُدْعَوْنَ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ.

Mereka itu adalah kamu dan Syi’ahmu. Tempat perjumpaanku dan kamu adalah telaga, Al-Haudh. Ketika umat manusia untuk hisab, kalian akan dipanggil dalam keadaan berseri-seri/dengan wajah ceria[5].

Al-Alûsi juga menyebutkan beberapa riwayat yang mendukung bahwa ayat ini turun untuk menjelaskan keutamaan Imam Ali as. dan keluarganya[6].

Inilah sekilas riwayat tafsir ayat tersebut, selain yang telah kami sebut masih banyak lainnya, seperti akan kami sebutkan nanti.

Setelah kami paparkan beberapa riwayat tafsir di atas dari kitab-kitab Ahlulsunnah apa nilai penisbatan yang dilontarkan tanpa dasar oleh Neo Nawashib seperti yang dilakukan dalam blog mereka.

Apakah setiap hadis keutamaan Imam Ali as. dan Ahlulbait dinisbatkan kepada Syi’ah? Lalu kemanakah pengakuan mereka dengan tanpa malu bahwa mereka juga mengagungkan dan memuliakan Ahlulbait?

Adapun pencacatan sanad yang dilakukan dengan mencacat Abu al Jarûd dan meragukan riwayat Imam Muhammad al Baqir as. (imam kelima Syi’ah Imamiyah) adalah hal sia-sia, karena:

Pertama, Tidak semua riwayat itu diriwayat dari jalur Abu al Jarûd.

Kedua, Anggap jalur periwayatan itu terbatas pada Abu al Jarûd, itupun belum cukup alasan untuk menggugurkannya dengan mencacatnya. (Bersambung)

CATATAN KAKI

[1] Ibid.265.

[2] Al-Shawaiq bab: 11 pasal pertama ayat ke sebelas hal:161.

[3]Riwayat ini juga disebutkan oleh beberapa ulama dalam buku-buku mereka seperti: Al-Zarandi Al-Hanafi dalam Nadmu Simthi Al- Durar: 92 cet. Maktabah Nainawa -Tehran- , Al-Syaukani datam tafsir Fath Al-Qadir.5,477 dari riwayat Ibnu Murdawaih, Al-Suyuthi dalam Al-Durr Al-Mantsur.7,589, dan Al-Syablanji dalam Nur Al-Abhar: 87.

[4] Al-Durr Al-Mantsur.7,589 dan Fath Al-Qadir.5,477.

[5] Ibid.

[6] Tafsir Ruuh al-Ma’ani.15,431.

_________________________

Teks Artikel Blog “haulasyiah”

TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH AYAT YANG KE 7, menurut syi’ah

Ditulis oleh haulasyiah di/pada Juli 12th, 2007

إِنّ الّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصّالِحَاتِ أُوْلَـَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيّةِ

“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shalih, mereka adalah Khairul Bariyyah (sebaik-baik manusia).”

Siapa yang dimaksud dengan “Khairul Bariyyah”?

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyatakan kepada Ali bin Abi Tholib:

“Wahai Ali! Baru saja Jibril ‘alaihis salam menyampaikan kepadaku bahwa yang dimaksud di dalam surat Al Bayinah ayat ke tujuh itu adalah engkau dan para syi’ahmu yang akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.”.

Hadits ini disebutkan oleh Al Imam Ath Thobari di dalam tafsirnya, pada ayat ketujuh dari surat Al Bayyinah ini.

Hadits di atas menunjukkan betapa besarnya keutamaan Ali radhiallahu ‘anhu, akan tetapi sayang seribu sayang hadits diatas adalah hadits yang lemah dari beberapa sisi

Yang Pertama: Hadits diatas diriwayatkan dari seorang yang dikenal dengan Abul Jarud (namanya Ziyad bin Al Mundzir asalnya dari negeri Kufah) meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, jadi Muhammad bin ‘Ali ini adalah cucunya Husain, anaknya ‘Ali bin Abi Thalib.

Ternyata Abul Jarud tersebut yang namanya Ziyad bin Al Mundzir dinyatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam kitabnya “Tahdzibut Tahdzib” dan “Taqribut Tahdzib” sebagai Kadzdzabun Rofidhy (seorang rowi yang pendusta dan beraqidahkan syi’ah rafidhah).

Kemudian Al Imam Ibnu Hibban menyatakan: (Abul Jarud Ziyad bin Al Mundzir) adalah seorang syi’ah rafidhah, dia dikenal sebagai pemalsu hadits dalam perkara-perkara yang menjatuhkan kredibilitas shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, dan dia juga sering menyebutkan keutamaan-keutamaan ahlul bait yang tidak ada dasarnya, sehingga tidak halal meriwayatkan hadits dari orang tersebut”.

Yang kedua: Para ulama ahli hadits menyebutkan bahwa Muhammad bin Husain adalah seorang tabi’in yang terpercaya, yang memiliki keutamaan dan termasuk fuqaha’ negeri Madinah di jamannya. Di dalam hadits diatas disebutkan bahwa Muhammad bin ‘Ali langsung meriwayatkan hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, padahal beliau yang dijuluki dengan Muhammad Al Baqir tidak pernah bertemu dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka hadits ini disebut dengan hadits mursal di dalam ilmu mushtholahil hadits, dan hadits mursal tidak bisa diterima sebagai landasan (hadits dha’if).

Yang ketiga: Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa Muhammad bin ‘Ali meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholib (kakeknya), akan tetapi sayang ulama’ ahli hadits menyebutkan bahwa beliau tidak pernah bertemu dengan ‘Ali bin Abi Tholib.

Inilah hadits yang sering dipakai oleh kaum syi’ah rafidhah untuk mendukung madzhabnya. Dan telah kita ketahui bahwa hadits tersebut lemah dan tidak dapat dijadikan sebagai sandaran. Wallahu ‘alamTranskip: dari ta’lim Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, dengan tema “Kedustaan Agama Syi’ah” dengan sedikit perubahan kalimat yang tidak merubah makna”.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>